Minggu, 10 Juli 2011

MELATI

Melati tumbuh diantara sampah-sampah
Melati kau sangat kasihan
Aku ingin memetikmu
Memindahkanmu dari tempat kumuh itu
Menempatkanmu di pot bunga yang indah
Selaras dengan parasmu melati

Kan kusirami kau dengan air kehidupan
Kurawat dengan segenap ragaku
Kan kujaga dirimu
Dari ancaman kumbang-kumbang liar
Melati tumbuhlah dalam sanubariku

DARI DALAM KERTAS

Aku yang berada di dala kertas
Berusaha untuk berkoar-suara
Namun telinga-telinga itu
Siapa tahu dengan mereka

Aku adalah hasil dari goresan pena
Bertinta merah
Aku yang di dalam kertas
Kurang mendapat perhatian
Jarang terbaca oleh mata jahanam
Mata butanya para wakil rakyat

Aku di dalam kertas
Berkoar, memprotes, menuntutnya
Untuk hak-hak sejati rakyat
Aku di dalam kertas

Tangisnya terlunta-lunta

Tangisnya terlunta-lunta.
Tangis yang sangat perih.
Menyaksikan anak emasnya dicongkel matanya.
Pekikan suaranya keluar dan mampu mengiris kuping menusuk hati dan meledakan jantung.
Kelam sudah harapan ibundanya.
Terkulai lemah tak berdaya.
Wajah yang mulai sirna cahayanya.
Redup,remang-remang,gelap gulita kebahagiaanya.
Malam mencekam yang tak luput dari kesaksian burung hantu dengan mata melototnya.
Dan puluhan gagak yang menari-nari di atasnya bak penari-penari ronggeng.
Ikut larut dalam derita yang mendalam.
Tak seorangpun tahu. Tak ada hati yang luluh.
Manusia yang lain tidak mau bersusah tangan.
Yang lain itu gatal kupingnya.
Yang lain itu telah mati.
Yang lain hanya mengganti gigi-giginya dengan emas.
Yang dimana emas itu hanya kepalsuan bagi dirinya.
Namun bunda tidak marah.
Ia tetap berlapang dada.
Ia berkata "jangan hanya bola mata saja, tapi hati harus melihat".